Selasa, 23 November 2010

BOROBUDUR




Setelah puas di pantai parangtritis, kini team wisata kembali melanjutkan perjalangannya, kali ini menuju kesebuah situs peninggalan bersejarah yang amat membanggakan bangsa Indonesia dimata dunia, sebagai salah satu keajaiban dunia yaitu Candi BOROBUDUR.

Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.


Sebelum team wisantara menceritakan pengalamannya ditempat bersejarah ini, mungkin ada baiknya kita tau sedikit tentang awal sejarah berdiri candi Borobudur.

Borobudur, Candi Budha Terbesar di Abad ke-9
Siapa tak kenal Candi Borobudur? Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Jutaan orang mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritages ini. Tak mengherankan, sebab secara arsitektural maupun fungsinya sebagai tempat ibadah, Borobudur memang memikat hati.


Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa Syailendra. Berdasarkan prasasti Kayumwungan, seorang Indonesia bernama Hudaya Kandahjaya mengungkapkan bahwa Borobudur adalah sebuah tempat ibadah yang selesai dibangun 26 Mei 824, hampir seratus tahun sejak masa awal dibangun. Nama Borobudur sendiri menurut beberapa orang berarti sebuah gunung yang berteras-teras (budhara), sementara beberapa yang lain mengatakan Borobudur berarti biara yang terletak di tempat tinggi.
Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar dan tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang berupa stupa Budha yang menghadap ke arah barat. Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai mahzab Budha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Budha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut.


Bagian dasar Borobudur, disebut Kamadhatu, melambangkan manusia yang masih terikat nafsu. Empat tingkat di atasnya disebut Rupadhatu melambangkan manusia yang telah dapat membebaskan diri dari nafsu namun masih terikat rupa dan bentuk. Pada tingkat tersebut, patung Budha diletakkan terbuka. Sementara, tiga tingkat di atasnya dimana Budha diletakkan di dalam stupa yang berlubang-lubang disebut Arupadhatu, melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk. Bagian paling atas yang disebut Arupa melambangkan nirwana, tempat Budha bersemayam.


Setiap tingkatan memiliki relief-relief indah yang menunjukkan betapa mahir pembuatnya. Relief itu akan terbaca secara runtut bila anda berjalan searah jarum jam (arah kiri dari pintu masuk candi). Pada reliefnya Borobudur bercerita tentang suatu kisah yang sangat melegenda, yaitu Ramayana. Selain itu, terdapat pula relief yang menggambarkan kondisi masyarakat saat itu. Misalnya, relief tentang aktivitas petani yang mencerminkan tentang kemajuan sistem pertanian saat itu dan relief kapal layar merupakan representasi dari kemajuan pelayaran yang waktu itu berpusat di Bergotta (Semarang). Keseluruhan relief yang ada di candi Borobudur mencerminkan ajaran sang Budha. Karenanya, candi ini dapat dijadikan media edukasi bagi orang-orang yang ingin mempelajari ajaran Budha. Atisha, seorang budhis asal India pada abad ke 10, pernah berkunjung ke candi yang dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat di Kamboja dan 4 abad sebelum Katedral Agung di Eropa ini.


Berkat mengunjungi Borobudur dan berbekal naskah ajaran Budha dari Serlingpa (salah satu raja Kerajaan Sriwijaya), Atisha mampu mengembangkan ajaran Budha. Ia menjadi kepala biara Vikramasila dan mengajari orang Tibet tentang cara mempraktekkan Dharma. Enam naskah dari Serlingpa pun diringkas menjadi sebuah inti ajaran disebut "The Lamp for the Path to Enlightenment" atau yang lebih dikenal dengan nama Bodhipathapradipa.

Salah satu pertanyaan yang kini belum terjawab tentang Borobudur adalah bagaimana kondisi sekitar candi ketika dibangun dan mengapa candi itu ditemukan dalam keadaan terkubur. Beberapa mengatakan Borobudur awalnya berdiri dikitari rawa kemudian terpendam karena letusan Merapi. Dasarnya adalah prasasti Kalkutta bertuliskan 'Amawa' berarti lautan susu. Kata itu yang kemudian diartikan sebagai lahar Merapi. Beberapa yang lain mengatakan Borobudur tertimbun lahar dingin Merapi.


Dengan segala kehebatan dan misteri yang ada, wajar bila banyak orang dari segala penjuru dunia memasukkan Borobudur sebagai tempat yang harus dikunjungi dalam hidupnya. Selain menikmati candinya, anda juga bisa berkeliling ke desa-desa sekitar Borobudur, seperti Karanganyar dan Wanurejo untuk melihat aktivitas warga membuat kerajinan. Anda juga bisa pergi ke puncak watu Kendil untuk dapat memandang panorama Borobudur dari atas. Tunggu apa lagi? Tak perlu khawatir gempa 27 Mei 2006, karena Borobudur tidak terkena dampaknya sama sekali.

Nah, sekarang gw mau cerita sedikit nih mengenai pengalaman selama disana...
Saat pertama kali tiba di kawasan Borobudur, ini adalah pertama kalinya bagi gw ke candi borobudur, saat turun pertama kali dari bis wisata, gw udah dapat membayangkan dapat melihat takjub candi borobudur yang selama ini slalu hanya gw dengar dari orang-orang tentang kemegahannya. Tp kenyataannya sungguh amat berbeda sekali dg apa yang gw alami.

Bukannya disambut dengan pemandangan agung sang candi borobudur, kita justru akan disambut oleh pedagang-pedagang yang menawarkan relief-relief candi borobudur dengan harga yang lumayan murah, berkisar antara Rp. 5.000 - Rp. 25.000,- gw sendiri beli 2 sebagai oleh2. Sayangkan kalo ngak dimanfaatin.

Ternyata candi borobudur tidaklah berada dekat didepan mata, kita harus berjalan untuk mencapai tempat tersebut, kira-kira 200 m. Sepanjang perjalanan kita disuguhkan dengan pedagang-pedagang yang menawarkan barang dagangannya, dari pakaian, patung hingga relief candi dengan berbagai bentuk. Begitu tiba di depan kawasan konflek candi borobudur, kita diharuskan untuk membeli tiket masuk yang harganya Rp. 12.500,-. Begitu udah bayar tiket dan masuk, ternyata candi borobudur juga belom kelihatan....aduh...gmna nih, padahal udah ngak sabar untuk melihatnya.


Berjalan dan terus berjalan, hanya itu yang bisa dilakukan, Untungnya sepanjang perjalanan banyak pemandangan yang bisa dimanfaatkan untuk menghilangkan keletihan. Setelah 300 m baru akhirnya gw tiba di kaki candi borobudur. Wow....wow....dan wow.... mungkin hanya itu yang bisa gw ucapkan saat pertama kali melihat candi borobudur didepan mata gw....bukan saja dari cerita orang, tapi kini gw bener-benar dapat melihat kemegahan dan keagungan candi borobudur didepan mata gw sendiri. Subhanallah.....betapa besar dan megahnya candi borobduur...^^

PERINGATAN....!!
Melihat betapa tingginya candi borobudur untuk mencapai puncaknya, diharapkan kepada wisatawan, agar bagi yg ingin BAB n BAK, sebaiknya dilakukan terlebih dahulu dibawah, karena kalau udah mendaki, diatas tidak akan ada toilet, terus untuk yang ngak punya stamina kuat, sebaiknya jangan berharap terlalu banyak untuk dapat mencapai puncak candi borobudur.

Gw sendiri dg nafas ngos-ngos-ngosan akhirnya dapat juga mencapai puncak, yah selain malu sebagai cwok kalo ngak ammpu mendaki ke puncak, gw jg pengen ngelian stupa yang menurut mitos orang2, kalo dapat memegang stupa didalamnya, keinginan kita akan dapat terwujud, tapi saat tiba dipuncak gw justru kebingungan mencari tempat stupa tersebut berada, karena begitu banyaknya stupa yang ada dipuncak borobudur. Satu demi satu stupa itu diintip tapi tetap aja enggak ada yang dimaksud, akhirnya dengan keputus asaan gw memutuskan untuk menyudahi pencarian, mgkn emang ngak jodoh kali...hehehehe....seperti manusia aja ngak jodoh.

Seperti kata pepatah, "dibalik kesusahan, pasti ada kemudahan yg akan didapat...", mungkin inilah pepatah yang dapat gw ambil, dipuncak borobudur, gw justru bertemu dengan bule2 yang bisa diajak bercanda, yah...sekedar untuk melatih ENGLISH LANGUAGE gw yang ancur....hehehehe.....



Untung ngak dapat diraih....rugipun ngak dapat dibuangg....pletakkk...!!
tau apa maksudnya gw nulis gituan...yg penting intinnya...disaat gw udah putus asa dan berniat untuk turun panggung.....turun dari borobudur maksudnya..
sAAT langkah-langkah kakiku menuruni tangga-tangga di candi borobudur, tiba-tiba saja perhatianku terarah pada satu kerumusan massa yang sangat menarik perhatian.
"Oh mygod.....". ternyata stupa yg sejak dari gw cari berada tak jauh dari tempat gw berdiri saat ini, dasar gila !! dicari ngak dapat2, ngak dicari justru keliatan sendiri. Dengan perasaan berdebar gw dekatin tuh stupa yang saat ini dipenuhi oleh orang2 yang berusaha untuk memegang isi dalam candi kecil tersebut.

Menurut mitos yang gw dengar selama ini, kalo kita bisa memegang stupa didalamnya, maka keinginan kita akan dapat terwujud. Walllahua'lam, yg pasti itu imposibille bgt emanknya kt hidup dizaman berhala hehehehe.... tp untuk memuaskan hati karena udah terlanjut berada dipuncak borobudur, sayang kalo ngak dicoba, orang pada megang, kenapa kita nggak....saat pertama kali mendekatinya, gw langsung coba intip apa yang ada didalam candi kecil itu, ternyata didalamya emank ada patung budha bertapa, hanya saja patungnya tanpa kepala...kata orang2 sih patung itu termasuk salah satu yang kena serangan bom dulu, aneh y...ngabulin permintaan org bisa...tpi untuk ngelindungi diri sendiri aja ngak bisa....tp ANEH TAPI NYATA, banyak orang2 yang disekeliling gw yang coba memegang stupa tersebut, tapi banyak yg ngak kesampaian tangannya....padahal kalo di intip, stupa kecil itu sangat dekat dan mudah terjangkau....kenapa y bisa gitu...?? (tanya GALILEO dah)

Penasaran, so pasti, makanya gw coba masukin tangan gw, dan....... gw berhasil memegang stupa kecil itu, tp gw lupa apa gw waktu itu minta sesuatu atau enggak y, y udahlah....yg penting gw udah bisa puasin hati gw karena udah berhasil pegang tuh stupa....

DAPETTTTTTT....


Akhirnya gw bisa juga menaklukkan ketinggian puncak borobudur.....puas dech...puassss... gw tinggalkan borobudur dgn satu kepuasan hati....hehehe
met tinggal borobudur....we will back...anytime...!!!

WISATA DI MAGELANG

Air Terjun Kedung Kayang
Obyek wisata ini terletak 3 Km dari obyek wisata Gardu Pandang Ketep Pass, searah menuju Kabupaten Boyolali. Dilatarbelakangi oleh Gunung Merapi, menjadikan obyek wisata ini sangat indah dan asri. Lokasi wisata yang sangat alamiah ini berada di lereng Gunung Merapi, dengan ketinggian air terjun mencapai 40 m, menjadikan obyek wisata ini tempat yang cocok untuk camping, outbond dan bersantai bersama keluarga dan teman – teman.
Lokasi Tiket Masuk Fasilitas Jarak dari Kota Mungkid Sarana Transportasi
Desa Wonolelo
Kec. Sawangan

Dewasa/Anak-anak
Rp. 2.000
Toilet, Terowongan, Tempat parkie 600 m Angkot, Bus, Ojek
Arung Jeram
Merupakan wisata dengan menggunakan perahu karet, menelusuri Sungai Elo sepanjang 12 Km. Anda akan disuguhi pemandangan yang indah di sepanjang perjalanan. Banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang sudah mencoba wisata ini. Bila anda berminat, dapat menghubungi Bapak Arif Prasetyo, SH ( Kasie Obyek Wisata ) beserta staf, di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Magelang dengan No. 0293 – 788352.

Lokasi Tiket Masuk Fasilitas Jarak dari Kota Mungkid Sarana Transportasi
Desa Mendut
Desa Blondo
Kec. Mungkid
dan
Candirejo
Kec.
Borobudur
1 Perahu karet berisi 7 orang termasuk Operator Dayung, Pelampung, Perahu karet, Helm, Snack, Musholla, Pemandu, Basecamp, Gazebo, Kamar mandi, toilet 1 Km Angkot, Bus
Air Terjun Curug Silawe

Lokasi wisata ini terletak di lereng Gunung Sumbing dengan ketinggian 50 m. Berada di Desa Suropati Kec. Kajoran, Kab. Magelang. Wisatawan dapat menikmati sejuknya alam sekitar yang dikelilingi oleh hutan pinus. Fasilitas yang ada di sekitar lokasi antara lain tempat parkir, rumah makan dan toilet.
Lokasi Tiket Masuk Fasilitas Jarak dari Kota Mungkid Sarana Transportasi
Desa Sutopati
Kec. Kajoran
Dewasa
Anak-anak :
Rp. 2.000
Tempat santai, toilet, Tempat parkir 40 Km Angkot, Bus, Ojek
Telaga Bleder

Obyek wisata ini terletak di Desa Ngasinan, Kec. Grabag dan berada di lereng Gunung Andong. Telaga ini dikelilingi oleh pepohonan. Menjadikan telaga ini tempat berwisata yang asri dan nyaman.
Lokasi Tiket Masuk Fasilitas Jarak dari Kota Mungkid Sarana Transportasi
Desa Ngasinan
Kec. Grabag
Dewasa :
Rp. 3.000
Anak-anak :
Rp. 2.000
Asuransi :
Rp. 200
Kolam, Gazebo, Toilet, Parkir 37 Km Angkot, Bus, Ojek
Treking Merapi Babadan

Lokasi obyek wisata ini berada di Desa Babadan Kec. Dukun. Berada di lereng Gunung Merapi dan berada di ketinggian 1.270 m dari permukaan laut. Terdapat pos pengamatan vulkanologi dan bungker. Selain itu, terdapat juga fasilitas home stay, gazebo dan rumah makan. Obyek wisata ini berjarak 15 Km dari Kec. Muntilan.
Lokasi Tiket Masuk Fasilitas Jarak dari Kota Mungkid Sarana Transportasi
Desa Babadan
Kec. Dukun

-
Musholla, Toilet, Bungker, Tempat parkir 25 Km Angkot, Bus, Ojek

WISATA BUATAN
Gardu Pandang Ketep ( Ketep Pass )

Obyek wisata ini diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri pada tanggal 17 Oktober 2002. Obyek wisata ini terletak di Desa Ketep Kecamatan Sawangan Kab. Magelang dan berada pada ketinggian 1.200 m dari permukaan laut. Kawasan yang terletak pada jalur SSB ( Solo Selo Borobudur ) ini mempunyai suhu udara yang sangat dingin dan sejuk. Para wisatawan akan disuguhi pemandangan indah Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Sindoro serta pegunungan Menoreh.  Terdapat gazebo untuk tempat bersantai, Volcano Theater dan Museum Volcano. Selain itu, para wisatawan juga dapat menikmati jagung bakar yang dijual disekitar kawasan tersebut. Terdapat pula penjual souvenir/cinderamata dan Penyewaan jasa teropong.
Lokasi Tiket Masuk Fasilitas Jarak dari Kota Mungkid Sarana Transportasi
Desa Ketep
Kec. Sawangan
Telp. 0293-5579730
Gardu Pandang :
Rp. 2.000
Volcano Theater :
Biasa : Rp. 4.000
Libur : Rp. 5.000
Museum :
Rp. 3.000
Asuransi : Rp. 200
Musholla, Toilet, Gazebo, Restoran, Parkir, Asuransi 30 Km Angkot, Bus, Ojek
Taman Rekreasi Kalibening
Nama Kalibening berasal dari kata Kali dan Bening. Kali berarti Sungai dan Bening berarti jernih. Airnya yang selalu mengalir dan tidak berbau membuat obyek wisata ini banyak dikunjungi oleh wisatawan. Baik untuk berenang maupun hanya sekedar bersantai bersama keluarga dan teman – teman.  Disekitar obyek wisata juga banyak terdapat rumah makan dan penjual jajanan. Pada hari – hari besar, terdapat pertunjukan Orkes Melayu maupun Pentas Seni.

Lokasi Tiket Masuk Fasilitas Jarak dari Kota Mungkid Sarana Transportasi
Dsn. Kalibening Payaman Secang Dewasa : Rp. 3.000
Anak-anak : Rp. 2.000
VIP : Rp. 4.000
Asuransi : Rp. 200
Kolam renang dewasa dan anak-anak, Gazebo, Kolam ikan, Toilet, Lap. Tenis, Tempat bilas, Kantin, Tempat santai 28 Km Angkot, Bus
Taman Rekreasi Mendut

Obyek wisata ini berada di pusat Kota Mungkid dan berjarak 1 Km dari Candi Borobudur. Fasilitas yang ada antara lain kolam renang dengan kedalaman 1 sampai 3 meter, taman yang dilengkapi dengan gazebo, lapangan tenis, kantin, toilet serta panggung hiburan yang juga untuk disewakan
Wisata sejarah
Candi Borobudur

270px-borobudur-perfect-buddha.jpg
Candi yang merupakan salah satu tujuh keajaiban dunia ini dibangun oleh Raja Syailendra pada abad VIII masehi. Lokasi Candi Borobudur ada di Desa Borobudur, sekitar pegunungan Menoreh Kec. Borobudur Kab. Magelang. Kata Borobudur berasal dari Bara dan Budur. Bara/Vihara artinya komplek candi dan budur atau beduhur artinya diatas atau bukit. Jadi Borobudur bisa diartikan sebagai Komplek Candi yang berada di bukit. Tinggi bangunan candi adalah 15 m diatas bangunan sekitarnya. Candi ini merupakan Candi Budha. Tinggi bangunan candi mencapai 34,5 m. Bangunan candi merupakan tingkatan. Semakin keatas semakin kecil, mirip bangunan limas. Tingkat 1 sampai 6 berbentuk bujur sangkar dan tingkat 7 sampai 19 berbentuk lingkaran. Pada Candi Borobudur terdapat Arca Budha sebanyak 504 buah dan stupa 72 buah. Pada dinding candi terdapat relief yang berupa cerita dan hiasan. Jika dilihat dari atas, maka Candi Borobudur mengadopsi bentuk bunga lotus. Candi Borobudur merupakan obyek wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik dan mancanegara. Event tahunan terbesar adalah pada Hari Raya Tri Suci Waisak, dimana umat Budha berkumpul untuk memperingati hari kelahiran Sidharta Gautama dan penerimaan Wahyu. Peringatan ini diselenggarakan pada Bulan Mei.
Di sekitar taman candi banyak terdapat kios dan penjual berbagai macam souvenir. Mulai dari Kaus, patung, perak dan kerajinan kayu.

Lokasi Tiket Masuk Fasilitas Jarak dari Kota Mungkid Sarana Transportasi
Desa Borobudur
Kec.
Borobudur
Mancanegara :
Dewasa : Rp. 99.000
Anak-anak : Rp. 54.000
Domestik :
Dewasa : Rp. 9.000
Anak-anak : Rp. 5.000
Musholla, Toilet, Museum, Atraksi Gajah, Kereta, Parkir, Asuransi 3 Km Bus, Mobil, Motor, Andong, Ojek
Candi Mendut
Candi Mendut merupakan Candi Budha, berjarak 3 Km dari Candi Borobudur menuju ke arah Yogyakarta. Candi ini berbentuk limas pada bagian atapnya dan mempunyai beberapa stupa kecil dibagian atasnya. Di dalam Candi terdapat 2 buah Arca Budha. Di sekitar Candi Mendut terdapat Komplek Asrama para Bhiksu. Fasilitas yang ada antara lain tempat parkir dan toilet. Serta beberapa kios penjual

Lokasi
Tiket Masuk
Fasilitas
Jarak dari Kota Mungkid
Sarana Transportasi
Desa Mendut
Kec. Mungkid
Mancanegara :
Rp. 3.000
Domestik :
Rp. 1.500
Tempat bersantai, Toilet, Parkir
600 m
Andong, Bus, Ojek
souvenir.
Pemandian Air Hangat Candi Umbul
Obyek wisata ini berada di Dusun Candi Umbul, Desa Kartoharjo Kec. Grabag Kab. Magelang dan merupakan peninggalan Dinasti Syailendra. Awalnya pada temoat ini di temukan Candi yang di sekitarnya terdapat kolam air panas, serta beberapa temuan peninggalan sejarah berupa 2 Arca Durga, 2 Arca Ganesha dan 1 Arca Siwaguru. Dua kolam yang ada masing – masing berukuran 8.50 m x 7.0 m berada di sebelah Barat Laut. Sedangkan di sampingnya berukuran 7.15 m x 12.50 m. Masing – masing berkedalaman 1 m. Terdapat pula ruang berendam. Pada hari besar biasanya terdapat pertunjukan musik.

Lokasi Tiket Masuk Fasilitas Jarak dari Kota Mungkid Sarana Transportasi
Dsn.Candi Umbul
Ds.Kartoharjo
Kec. Grabag
Dewasa :
Rp. 3.000

Anak-anak :
Rp. 2.000
Toilet, Ruang rendam, Kolam renang air hangat 35 Km Angkot, Bus, Ojek
WISATA RELIGIUS
Makam Kyai Raden Santri
Obyek wisata ini berada di Desa Gunungpring Kec. Muntilan. Disebut Gunungpring karena tempat tersebut berada di bukit dan banyak terdapat pohon bambu ( pring ). Kyai Raden Santri atau Kanjeng Gusti Paangeran Singosari adalah salah satu putra Kyai Ageng Pemanahan, yang merupakan keturunan Prabu Brawijaya. Saudara sekandungnya adalah Raden Sutowijoyo ( Panembahan Senopati, Raja Mataram I Th. 1588 – 1591 ) dan Pangeran Gagak Bening ( Adipati Pajang, Th. 1588 – 1591 ). Menjelang berdirinya Kerajaan Mataram, Kyai Raden Santri pernah menjadi Senopati perang, untuk menaklukkan Kadipaten Kadipaten yang mbalelo. Namun setelah berhasil, beliau memilih untuk menyebarkan Agama Islam dan menetap di Dusun Santren. Beliau sering menyepi untuk Mujahadah dan Taqorubban Illalah di bukit gunungpring. Pada saat beliau hendak pulang ke dusun santren, terjadi banjir besar di sungai. Kemudian beliau berkata, ” air berhentilah kamu, aku hendak lewat”. Maka berhentilah air tersebut dan mengeras menjadi batu cadas yang menonjol. Sehingga akhirnya sampai sekarang disebut Watu Congol ( batu yang menonjol ).
Fasilitas yang ada disekitar obyek wisata ini antara lain musholla, wartel, tempat parkir, rumah makan dan kios souvenir.

Rutinitas Ritual Keagamaan :
Sadranan
Merupakan bentuk sodaqoh dan do’a bersama
Haul Kyai Raden Santri dan Gus Jogorekso
Merupakan bentuk peringatan wafatnya Kyai Raden Santri dan Kyai Gus Jogorekso. Diisi oleh sema’an Al – Qur’an, Tahlil, Kirab Budaya dan diakhiri dengan pengajian oleh para ulama dan kyai.

Lokasi Tiket Masuk Fasilitas Jarak dari Kota Mungkid Sarana Transportasi
Desa Gunungpring
Kec. Muntilan

1 Rombongan Bus Besar : Rp. 8.000
1 Rombongan Bus Kecil : Rp. 5.000
1 Rombongan Taxi :
Rp. 2.000
Musholla, Wartel, Toilet, Tempat parkir 10 Km Angkot, Bus, Ojek, Andong
SENI BUDAYA
Kubrosiswo
Bigaran, Sumberrejo Borobudur
Kesenian kubrosiswo merupakan kesenian tradisional berlatarbelakang penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa. Kubro berarti besar dan siswo berarti siswa atau murid. Kesenian ini ditampilkan secara massal, dengan tokoh Ki Garang Serang yang merupakan prajurit Pangeran Diponegoro, yang mengembara di daerah Pegunungan Menoreh untuk menyebarkan Agama Islam. Dalam pengembaraannya, beliau memasuki hutan lebat yang masih banyak di huni oleh binatang buas. Ketika hutan itu dibakar, terjadilah pertentangan antara Ki Garang Serang dengan sekelompok binatang buas. Tetapi karena kesaktiannya, maka para binatang buas dapat tunduk dan mengikuti perintah beliau. Selain menyebarkan Agama Islam, beliau juga berjuang mengusir penjajah. Kesenian ini diiringi dengan bende, 3 buah dodok dan beduk.
Dayakan
Kurahan, Borobudur
Kesenian dayakan merupakan karya cipta masyarakat. Semula kesenian ini hanya digunakan ketika akan memasang kubah masjid. Dimana kubah tersebut dikirab keliling desa diikuti oleh sekelompok lutung dengan tabuhan yang sederhana. Perkembangan selanjutnya lebih mengarah kepada kostum, yang terinspirasi dari film – film indian. Sedangkan musik yang digunakan bernuansa islami, sehingga kesenian ini juga digunakan sebagai sarana penyebaran Agama Islam. Kesenian ini diiringi dengan 3 bendi dan 1 dodok atau bedok.
Kuda Lumping
Marongan Sukomakmur, Kajoran
Kesenian kuda lumping ini menceritakan Prabu Klono Suwandono dan Panji. Kesenian yang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat ini mulanya digunakan sebagai sarana penyembuhan, nadar atau syukuran. Kesenian ini banyak berkembang di daerah lereng Gunung Sumbing. Kesenian yang dilakukan secara massal ini diiringi seperangkat Gamelan Slendro dan pelok.
Kuda Lumping Romo Turonggo
Gopakan Windusari
Kesenian kuda lumping yang sangat digemari oleh masyarakat Windusari ini memiliki ciri khusus, terutama pada tokoh barong dalam permusuhannya dengan Prabu Klono Suwandono. Gerak tarinya yang ritmis dan dinamis, terutama pada gerak tari prajuritan. Kesenian kuda lumping ini juga diiringi oleh seperangkat Gamelan Slendro, pelok serta angklung.
Warokan
Sorobayan, Grabag
Kesenian ini banyak dilakukan oleh anak – anak usia SD dan SMP. Menceritakan tentang perjalanan Warok Seco Darmo dan Suro Menggolo, yang mengadakan adu kesaktian antara prajurit pendukungnya. Kesenian ini mengekspresikan sikap berwibawa. Kesenian ini diiringi oleh seperangkat Gamelan Slendro, bende dan beduk.